Doa di penghujung tahun dan Awal tahun baru

 

Maha Suci Allah dan Segala puji hanya bagi Engkau Ya Allah

Ya Tuhanku yang Maha Pemurah

Aku bersyukur atas segala nikmat yang telah Engkau berikan kepadaku dan keluargaku

Berkahilah kami dan masukkanlah kami ke dalam golongan orang-orang yang bersyukur atas nikmatMu

Ya Tuhanku yang Maha Pengampun

Ampunilah dosa-dosaku, dosa keluargaku, dosa kedua orang tuaku, dan doa seluruh umat mukmin di dunia ini

Kasihanilah kami dan beri maaflah kami

Masukkan kami ke dalam golongan orang-orang yang Kau terima tobatnya

Ya Tuhanku yang Maha Bijaksana

Berilah kesabaran, ketenangan dan ketentraman hati keluarga kami

Berilah ketabahan, kekuatan, dan mudahkanlah jalanku dalam menggapai cita-cita

Ya Tuhanku yang Maha Pengasih dan Penyayang

Tunjukkanlah kepada kami jalan yang lurus, jalan yang Engkau Ridhoi

Tetapkanlah hati kami agar selalu beriman dan bertaqwa kepada Engkau

Allah Maha Besar dan Segala puji hanya bagi Engkau Ya Allah

#1 Muharram 1433 H#

Advertisements
This entry was posted on November 26, 2011, in Uncategorized. Leave a comment

Pandanglah Langit Dari Sisi Bumi Yang Lain

Pernahkah Anda memandang langit? ..tentu saja. Pernahkan Anda memandang langit dari tempat yang berbeda di muka bumi? ..ya. Apa kesan Anda setelah memandang langit?dari beberapa tempat yang berbeda?…dari tempat manapun kita memandang langit tentu akan kita dapati pemandangan langit yang hampir sama..warna biru cerah dengan spot awan putih di siang hari saat cuaca cerah atau putih kelabu sampai hitam pekat saat mendung dan hujan, dan langit malam terlihat terang dengan bulan purnama atau sedikit remang-remang pada saat bulan sabit atau langit gelap dengan taburan sejuta bintang berkelipan..ya, pemandangan langit hampir selalu sama dimanapun kita berada di muka bumi…tapi kita tidak selalu tahu pemandangan di sisi bumi yang berbeda dari bumi yang kita pijak sampai kita mendatangi tempat tersebut..mungkin akan sama atau bisa juga berbeda…so cobalah berjalan ke sisi bumi yang lain agar bisa melihat ciptaan Tuhan Yang Maha Agung…

CIMG0352Saya lahir dan besar di Jogja, sekolah dari SD sampai Master di Jogja, menikah dengan orang Jogja dan tinggal menetap di Jogja, keluarga besar saya hampir semuanya di Jogja (saya menyebut Jogja untuk mewakili wilayah di Propinsi DIY , meskipun saya lahir, besar, dan menetap di wilayah Kabupaten Sleman, sekolah-sekolah saya di beberapa tempat di wilayah Kabupaten Sleman, Bantul, dan Kota Yogyakarta).

Pada waktu kecil saya jarang sekali bepergian ke tempat-tempat yang jauh dari Jogja karena keluarga besar orang tua saya juga di Jogja dan orang tua saya memang tidak pernah bepergian jauh dari Jogja. Meskipun begitu saya sangat senang dan merasa sangat tertarik bila saya diajak oleh orang tua, saudara atau teman lain untuk bepergian walaupun hanya ke tempat yang tidak jauh dari rumah, sebelum pergi saya selalu membayangkan seperti apa tempat yang akan kami tuju tersebut dan apa yang akan kami temui di sana, bagaimana suasana perjalanannya dan orang-orang yang akan kita temui di perjalanan, bagaimana ketika sampai di sana orang-orang dan lingkungan di sana.

Menginjak remaja mulai SMP dan seterusnya sampai sekarang, kesempatan untuk bepergian jauh semakin sering karena acara dari sekolah, ajakan atau keperluan dari saudara dan kerabat , serta kepentingan pekerjaan. Akhirnya semakin banyak tempat yang berhasil saya kunjungi yang berjarak dari rumah di luar area kelurahan, kecamatan, kabupaten, provinsi, pulau dan negara.

Apa yang saya dapat setelah bepergian? Banyak sekali yang saya dapatkan setelah bepergian yaitu pengalaman..pengalaman tentang banyak hal..saya mendapat banyak teman dan kenalan baru, dan yang paling penting adalah wawasan baru sehingga saya lebih percaya diri dan berani. Setiap kali melihat tempat baru, pasti saya akan membandingkan dengan Jogja atau Indonesia..tentang atmosfer, geografis, fasilitas, makanan, budaya, biaya hidup, orang-orangnya, dsb.,,pada kesan pertama hampir semua tempat serasa lebih baik daripada Jogja dan Indonesia..entah karena suasana hati orang travelling memang dalam kondisi yang bergembira atau karena rasa excited sebelum melihat tempat tersebut..atau memang faktanya tempat tersebut lebih baik….namun pada akhirnya saya selalu rindu untuk pulang ke Jogja ke Indonesia..kampung halaman adalah tempat yang paling indah karena di sanalah rumah saya yang sebenarnya tempat keluarga dan handai taulan tercinta.

Saya senang travelling, tapi  saat ini saya bukan orang yang mau dan mampu untuk menempatkan travelling sebagai kebutuhan primer karena tentu saja sebagai keluarga muda masih banyak sekali kebutuhan lain yang lebih menjadi prioritas, saya bisa travelling ke beberapa tempat sampai saat ini lebih karena adanya kesempatan bersamaan urusan lain terutama pekerjaan jadi sambil menyelam minum air kira-kira begitu..tapi suatu hari nanti setelah cukup mapan ingin sekali menyisihkan anggaran untuk memenuhi kebutuhan travelling tentunya bersama dengan keluarga tercinta agar anak-anak saya bisa mendapatkan wawasan yang lebih tentang dunia ini untuk membekali mereka agar berani menghadapi kehidupan, dan tentu saja prioritas cita-cita saya yang lain adalah berkunjung ke Baitullah di Mekah….Amin.

 

Bangkok, 25 November 2011…lagi kangen rumah…

This entry was posted on November 25, 2011, in Uncategorized. Leave a comment

Dua Jempol untuk Ayah

IMG00268-20111117-1129Sudah hampir sebulan ini terasa ada yang berbeda dalam rutinitas harian saya, tidak membacakan dongeng sebelum tidur malam anak-anak, tidak ada anak-anak yang “jiwit-jiwit” (mencubiti) siku saya sebelum tidur sambil ngedot minum susu, tidak bangun tengah malam untuk membuatkan susu atau mengambilkan minuman lain yang dimaui anak-anak, tidak mengejar-ngejar dan menangkap anak-anak untuk dimandikan, tidak membelajari anak-anak, tidak mengantar atau sesekali menjemput anak-anak dari sekolah … dan aktivitas lain yang biasa saya lakukan kalau saya berada di rumah bersama keluarga.

Sekarang aktivitas rutin yang saya lakukan setiap hari adalah sehabis sholat subuh trus buka laptop atau buku,  mengerjakan aktivitas kecil di dapur mungil apartemen, pergi ke kampus dan seharian berada di sana, pulang sore mengerjakan kebutuhan pribadi dan kembali buka laptop atau buku lagi … hanya itu dan itu, ya kadang-kadang diselingi main-main ke mall dekat apartemen kalau lagi bete atau sesekali kumpul-kumpul dengan teman-teman Permitha.

Aktivitas rutin yang biasa saya lakukan di rumah sekarang diambil alih oleh Ayah alias suami saya. Ayah dengan telaten mengirimkan kabar dan update foto anak-anak lewat BBM, kadang lewat skype sehingga saya bisa mengetahui aktivitas mereka sehari-hari mulai bangun tidur pagi sampai tidur malam. Ayah yang sekarang memandikan anak-anak, mengantar sekolah, membelajari, membuatkan susu dan merelakan sikunya untuk di”jiwit-jiwit” dan dengan sabar mengurusi anak-anak kalau diantara mereka ada yang sakit. Meskipun di rumah ada si bibi Lik Tari yang membantu memasak dan memberesi pekerjaan rumah, juga ada ibu saya yang rumahnya tidak jauh dengan rumah kami yang membantu menjaga anak-anak, tetapi Ayah sekarang yang memegang tugas pokok di rumah untuk mengurusi rumah tangga dan yang utama mengurusi anak-anak.

Saya terharu setiap kali suami saya memberi kabar dari rumah terutama tentang anak-anak, …..”Mbak Hana lagi sakit tangannya gatal-gatal, tadi nangis di sekolah terus Ayah jemput dan sekarang diperiksakan ke rumah sakit”..”Ini lagi belanja snack untuk ulang tahun Yasmin dan sekarang anak-anak lagi pada mbungkusin snacknya”..”Ayah sama Mbak Hana lagi di sekolahnya Mbak Hana menghadiri rapat komite”..”Yasmin dapat majalah baru dari sekolah dan sekarang lagi minta dibelajari Ayah”..”Nilai ulangan Mbak Hana yang paling rendah 85, pelajaran ini dapat 90, pelajaran itu dapat 100”..”Senangnya melihat anak-anak lagi main sepedaan dengan rukun dan ceria”..”Ayah barusan sholat maghrib berjamaah dengan Mbak Hana dan Yasmin”…..Subhanallah.

Terima kasih Ayah telah menjadi Ayah dan suami yang sempurna bagi Mamah, dua jempol Mamah apresiasikan untuk Ayah, jempol pertama karena Ayah sudah berhasil menjadi Ayah sekaligus ibu yang baik bagi Hana dan Yasmin, dan jempol yang kedua karena Ayah sudah menjadi suami yang sangat pengertian dan sabar serta setia bagi Mamah, …..Alhamdulillahi rabbil alamin…terima kasih Ya Allah.

Prachin Buri, 16 November 2011

This entry was posted on November 19, 2011, in Uncategorized. 2 Comments

The First Weeks in Bangkok

CIMG0374

Alhamdulillah sudah hampir sebulan di Thailand dan bisa melewati dengan baik meski harus melalui beberapa tahap dan peristiwa yang cukup berat.

Waktu-waktu awal di tempat hidup yang baru merupakan hal yang terberat karena harus adaptasi dengan lingkungan baru dan melawan perasaan homesick dengan keluarga.

Sedih berpisah dengan keluarga …

IMG00062-20110830-1033CIMG0281

Berpisah dengan keluarga besar terutama anak-anak dan suami adalah hal berat. Alhamdulillah saya punya cukup waktu untuk mengkondisikan perpisahan dengan keluarga, ada waktu sekitar 6 bulan dari pengumuman diterimanya aplikasi beasiswa sampai waktu keberangkatan. Teknologi informasi sangat membantu saya dan keluarga untuk bisa berkomunikasi lewat BBM dan Skype sehingga saya bisa mengetahui kondisi anak-anak hampir setiap saat dari laporan suami, demikian juga rasa kangen terhadap anak-anak terobati lewat video call via Skype sehingga saya bisa ngobrol dan melihat wajah mereka.

Teman-teman yang friendly dan kindly …

chatucakIdul Adha 1432 H 2

Saya beruntung karena tidak benar-benar sendiri berangkat sekolah ke Thailand, ada Jeng Susi, temen satu kantor yang sama-sama berjuang dari awal sampai akhirnya kami sampai di Thailand, karena kita berdua jadi segalanya lebih ringan dan lancar karena kita saling share. Sampai di Bangkok kami juga tidak sendiri, karena ada teman-teman mahasiswa dari Indonesia yang sudah lebih dulu sekolah di sini dan membantu kami mulai dari menjemput di bandara, menyiapkan apartemen, sampai mewariskan barang-barang mereka untuk keperluan kami.

Ajarn dan teman-teman Thai yang ramah dan baik hati …

IMG_3416

Ajarn adalah sebutan untuk guru di Thailand. Ajarn adalah profesi yang sangat dihormati di Thailand, bahkan mereka dipanggil Ajarn tidak hanya oleh muridnya saja tapi setiap orang yang mengetahui kalau mereka guru akan memanggil Ajarn. Saya sudah mulai kontak lewat email dengan Ajarn saya kira-kira 2 tahun sebelum akhirnya saya sampai di kampus dan bertemu beliau. Pada hari kedatangan saya dan Jeng Susi ke kampus, beliau sudah menunggu dan menyambut kami dengan sangat baik bersama Ajarn yang lain, dan kalimat yang pertama diucapkan adalah “Finally you come here, We’ve been waiting for you for one year” …kami pun merasa tersanjung, apalagi setelah itu kami diajak lunch bareng …wow.

Ajarn mengenalkan kami lewat email kepada semua Ajarn dan mahasiswa lain di Departemen Sosial and Administrative Pharmacy, jadi setiap kali kami bertemu dengan mahasiswa Thai di SAP mereka langsung menebak “Dwi and Susi from Indonesia”, dan mereka pun menunjukkan kami tempat-tempat di kampus, study room untuk mahasiswa, library dan dengan senang hati mengajari kami aturan dan tata cara di kampus. Pengalaman mengesankan, kami ditraktir lunch dan nonton film Thai di bioskop oleh Pi Pam, mahasiswa Thai yang baru dua hari kami kenal dan yang lebih amazing..kami diajak week end ke Pattaya oleh Pi Song, mahasiswa Thai di program yang sama dengan kami, saat kami sedang hospital visit study ke Chao Phya Abhaibhubejhr Hospital.

Adaptasi dengan lingkungan baru …

Kami tidak begitu mengalami cultural shock, karena ini bukan kedatangan kami yang pertama kali di Thailand serta cerita pengalaman dari teman-teman yang sudah lebih dulu berada di Thailand sangat membantu kami, lagi pula kondisi lingkungan di sini tidak jauh beda dengan Indonesia, yang jelas beda adalah suasana religius islam yang sulit ditemukan (hampir tidak pernah dengar suara adzan), serta makanan halal yang harus dipilih dengan hati-hati.

Gangguan karena banjir …

Bulan Oktober saat saya datang adalah musim dingin di Thailand, tapi jangan dibayangkan pakaian tebal atau jaket yang harus dipakai di musim ini, karena walaupun dikatakan musim dingin tapi suhunya hampir 40 derajat Celcius dan tidak pernah tidak berkeringat walau malam hari. Teman-teman bilang di Bangkok hanya ada 2 musim: panas dan sangat panas…oh. Tapi ketika saya mengunjungi provinsi lain yang agak jauh dari Bangkok, memang bisa dikatakan musim dingin.

Bulan Juni-Juli adalah musim hujan di Thailand, dan dampaknya adalah banjir yang menggenangi hampir 40% wilayah Thailand. Karena banjir tersebut, jadwal kuliah saya yang seharusnya dimulai tanggal 7 November menjadi ditunda dan ditunda terus hingga direncanakan tanggal 28 November baru mulai.

Ajarn saya sangat baik dan perhatian, walaupun rumahnya sendiri kebanjiran tapi tetap memperhatikan dan mengkhawatirkan kami, akhirnya kami dititipkan kepada teman dan mahasiswanya yang bekerja di Chao Phya Abhaibhubejhr Hospital untuk belajar dan sekaligus mengungsi dari banjir karena disebut-sebut dalam berita bahwa air banjir akan memasuki Bangkok dan mungkin bisa sampai ke area kampus dan tempat tinggal kami. Dan jadilah saya dan Jeng Susi di sini, di Chao Phya Abhaibhubejhr Hospital, Propinsi Prachin Buri yang berjarak 3 jam dengan perjalanan darat ke arah timur dari Bangkok. Pengalaman baru lagi yang bisa saya peroleh…hikmah dari dampak banjir yang melanda sebagian Thailand.

 

Prachin Buri, 15 November 2011

This entry was posted on November 15, 2011, in Uncategorized. Leave a comment

Galeri Yasmin

Tanggal 14 November tahun ini adalah ulang tahun Yasmin yang ke-4. Waktu terasa cepat sekali berlalu, rasanya baru kemarin melahirkannya, kini sudah empat tahun usia putri kedua saya.

Tahun ini, Mamah nggak bisa ikut mendampingi di hari ulang tahun Yasmin. Tapi ada Ayah dan Mbak Hana yang akan mendampingi Yasmin membagi rejeki ulang tahun buat teman-teman di Play Group Mutiara Hati.

Mamah selalu berdoa mudah-mudahan kita sekeluarga diberikan kesehatan dan senantiasa diberkahi Allah SWT. Mamah sangat bersyukur kepada Allah SWT telah dikaruniai Yasmin menjadi putri Mamah, semoga Allah menjadikan Yasmin anak yang solehah, berilmu dan derajad tinggi, menyejukkan pandangan orang tua, menyenangkan hati bagi yang mengenal, dan bermanfaat bagi sesama manusia….Amin ya rabbal alamin.

Sebagai pengobat kangen, Mamah susun galeri foto-foto Yasmin waktu demi waktu. Semoga kelak dewasa nanti, Yasmin mengerti kalau Mamah sangat menyayangi Yasmin, Mbak Hana dan Ayah.

Catatan ini Mamah tulis di tempat yang jauh dari rumah, di Prachin Buri, sebuah propinsi tiga jam perjalanan darat di sebelah timur kota Bangkok, dalam rangka hospital visit study di Chao Phya Abhaibhubejhr Hospital, Thailand.

Prachin Buri, 11 November 2011

Dan Petualangan Dimulai …

Dan disinilah saya sekarang berada, terpisah jarak 2764 km dari kampung halaman dan keluarga. Membawa asa dan cita-cita, mengorbankan keluarga, mengemban tugas negara, melaksanakan syariat agama demi suatu tujuan kebaikan bagi saya, keluarga, negara dan Insya Allah bagi agama, semoga Allah SWT meridhoi dan mengabulkan doa saya…Amin Ya Rabbal Alamin.

Bangkok, ibukota negara Thailand, negeri gajah putih, ya disinilah saya sekarang berada sejak menginjakkan kaki di bandara Suvarna Bhumi tanggal 18 Oktober 2011 yang lalu. Usaha yang dirintis sejak satu setengah tahun yang lalu akhirnya membuahkan hasil, beasiswa dari pemerintah Republik Indonesia melalui DIKTI (kemendiknas) yang menghantar saya berkesempatan melanjutkan studi PhD dalam bidang Pharmacy Administration di Mahidol University.

Dan petualangan pun dimulai. Belajar ilmu baru, tidak hanya ilmu yang akan saya pelajari di kampus tapi juga belajar untuk hidup di tempat asing, belajar tentang kehidupan kelompok manusia di sisi bumi yang lain dan belajar hidup terpisah dari keluarga tercinta di kampung halaman nun jauh di mata.

Bangkok, 3 Nov 2011

This entry was posted on November 3, 2011, in Uncategorized. Leave a comment

Lembayung Senja

sunset 2

Mira mengayun bocah kecil di gendongannya sambil menyenandungkan “Nina Bobo”, sudah setengah jam yang lalu dia mulai menidurkan Rama, putra semata wayangnya, namun bayi yang baru genap 6 bulan itu belum mau diletakkan di box bayinya. Mira menengok ke ranjang yang dibelakanginya, dua gadis kecil masih duduk di atas ranjang dengan mata yang mulai redup karena mengantuk, melihat wajah Mira yang menengok ke arah mereka, segera berseri-seri wajah keduanya, Sang kakak, gadis yang lebih besar mengulurkan buku cerita kepada Mira, diikuti Sang Adik, gadis yang lebih kecil. Mira menggeleng pelan sambil meletakkan jari di mulutnya dan perlahan berbisik, “Ssst, bentar ya, adek belum bobok”. Kedua gadis kecil itu kembali ke ranjang dan duduk dengan manis tanpa rasa kecewa sedikitpun.

Mira memandangi wajah kedua gadis kecil itu, Gadis dan Dara, dua gadis kecil yang sangat disayanginya disamping Rama putra semata wayangnya, dua gadis yang juga menyayangi dan selalu menghormatinya. Mira menatap lekat wajah Gadis dan Dara yang sudah mulai mengantuk, biasanya mereka tertidur setelah Mira membacakan satu cerita dari buku kumpulan cerita yang dikoleksinya sebagai guru TK, wajah mereka yang sangat putih bersih, sangat berbeda dengan Rama yang hitam manis seperti wajahnya. Bahkan wajah Gadis dan Dara tidak mirip dengan Indra, ayah mereka, suami Mira. Wajah kedua gadis itu sangat mirip dengan foto wanita muda memakai baju hijau muda segar dengan wajah putih berseri dan rambut ikal yang panjang yang terpajang di meja belajar kecil di sudut kamar itu, berjejer dengan beberapa foto yang juga terpajang di meja kecil itu.


Ingatan Mira melayang pada berbagai peristiwa yang dialami dalam kehidupannya beberapa tahun sebelumnya. Wanita muda itu adalah teman karib Mira, sahabat yang sudah dianggap seperti saudara kandung. Wanita itu bernama Tiara, mereka kenal sejak bertemu di kelas satu SMP dan persahabatan mereka berlanjut sampai lulus kuliah, meski mereka mengambil jurusan yang berbeda, Mira mengambil Jurusan Psikologi dan Tiara mengambil Jurusan Ekonomi. Tiara juga sangat akrab dengan keluarga Mira, apalagi semenjak Tiara kuliah orang tua Tiara pindah ke luar kota karena ayahnya dipindahtugaskan, jadilah keluarga Mira sebagai keluarga kedua bagi Tiara. Mira dan Tiara sangat kompak dalam berbagai hal, mereka selalu pergi kemana-mana berdua, kadang kala mereka berempat dengan Aryo, kakak Mira, dan Indra, sahabat Aryo. Kedua laki-laki itu selalu menjadi pengawal bagi Mira dan Tiara kapan pun mereka membutuhkan, selisih umur mereka juga tidak terpaut jauh, jadilah mereka empat serangkai yang kompak. Indra, yang kebetulan anak kos di kota itu juga sangat akrab dengan Mira dan keluarganya.

Mira tidak pernah menyadari kapan benih-benih perasaan lain terhadap Indra mulai tumbuh di hatinya. Diam-diam Mira mulai mengagumi Indra selayaknya seorang wanita mengagumi laki-laki, dan perasaan itu semakin tumbuh subur di hatinya. Namun Mira tidak pernah menceritakan hal itu kepada orang lain, tidak kepada Tiara sahabatnya, atau Aryo kakaknya dan keluarga, apalagi di depan Indra ia selalu berusaha menutupi perasaannya. Mira masih merasa ragu-ragu dan malu untuk mengungkapkan perasaannya pada Indra, Mira khawatir bertepuk sebelah tangan dan persaudaraan mereka akan menjadi renggang bila hal itu terjadi. Biarlah dia menyimpan sendiri perasaannya pada Indra dan berharap suatu hari Indra juga mempunyai perasaan yang sama, dan Mira masih menutup rapat rahasianya itu sampai Indra pamitan pada keluarganya untuk pulang ke kotanya karena diterima bekerja di sana. Indra masih sering berkomunikasi dengan Mira dan keluarganya melalui telepon dan sesekali ia juga menyempatkan untuk berkunjung ke rumah keluarga Mira.

Malam itu tidak akan pernah terlupa oleh Mira dan masih membekas kuat dalam ingatannya. Usai mengikuti acara wisuda Mira pada siang harinya, keluarga Mira mengadakan syukuran di rumah dan mengundang beberapa orang sahabat dan keluarga mereka, termasuk Tiara dan Indra. Tiara telah lulus kuliah satu semester lebih dulu dan diterima bekerja di suatu Bank yang kebetulan satu kota dengan tempat kerja Indra. Malam itu Mira dan Indra datang bersamaan menjelang acara syukuran selesai, mereka memang sengaja berbarengan. Suasana yang sudah mulai sepi kembali akrab dan hangat dengan kedatangan mereka, apalagi Tiara sangat asyik bercerita tentang pekerjaan barunya. Menjelang malam, suasana semakin sepi karena saudara dan teman keluarga Mira sudah pulang dan tidak ada yang datang lagi, tinggallah Mira, keluarganya serta Tiara dan Indra yang memang berencana untuk menginap di rumah keluarga Mira.

Tiba-tiba Aryo dengan suaranya yang agak parau memecahkan perbincangan di ruang keluarga rumah keluarga Mira. Mira sangat heran dengan perubahan sikap kakaknya itu, apa yang membuat kakaknya itu menjadi sedih padahal sejak siang tadi Aryo terlihat sangat bahagia dengan kelulusan Mira, adiknya.

“Semuanya, Indra akan menyampaikan satu berita untuk kita”, hanya sepatah kalimat itu yang diucapkan Aryo, berita apa gerangan yang akan disampaikan oleh Indra sehingga kakaknya menjadi begitu sedihnya.

“Ada berita apa Nak Indra, bukan berita duka kan, ayo katakanlah”, Ibu tidak sabar untuk menunggu Indra bersuara.

Setelah menelan ludah, Indra mulai bicara, “Bapak, Ibu dan Mira, kalian sudah saya anggap sebagai keluarga saya sendiri, oleh karena itu saya harus menyampaikan berita gembira ini segera kepada kalian, saya akan segera menikah, karena ibu saya mendesak saya untuk segera menikah, beliau khawatir akan menyusul ayah sebelum sempat menyaksikan saya menikah”, jelas Indra dengan sangat lantang selantang suara lonceng yang sangat keras yang dirasakan Mira menghantam kepalanya dan menyadarkannya bahwa ini adalah nyata dan perkataan Indra tadi bukanlah mimpi seperti yang diharapkannya.

“Alhamdulillah, gadis mana yang beruntung mendampingimu Nak Indra”, Ibu sangat antusias menunggu Indra melanjutkan ucapannya. Sementara Mira serasa ingin menutup kedua telinganya agar tidak mendengar kelanjutan ucapan Indra. Selintas Mira sempat melirik orang-orang di ruangan itu, ayah dan ibunya yang sangat antusias untuk mendengar cerita Indra, Aryo yang menunduk dan bersikap hambar, hei apa yang terjadi pada abangnya itu, pikir Mira, sementara Tiara yang duduk di sebelahnya terlihat salah tingkah, ada apa pula dengan sahabatnya itu, apakah dia sudah tahu terlebih dulu dari Indra. Mira berusaha tidak mendengarkan kelanjutan perkataan Indra, namun hati kecilnya sangat ingin tahu siapa gadis yang akan dinikahi Indra.

“Gadis yang akan saya nikahi bukanlah orang asing lagi, kalian sudah sangat mengenalnya, dia ada di sini bersama kita sekarang, Tiara”, Indra berkata dengan mantap. Untuk kedua kalinya kepala Mira seperti dihantam lonceng, lebih keras dari sebelumnya, dan Mira tidak sempat lagi melihat reaksi orang-orang di sekitarnya satu per satu karena ia tidak bisa menahan dirinya untuk terus tersadar, Mira limbung, akumulasi kelelahan fisik yang dirasakannya sejak pagi hari hingga malam itu dan ditambah berita kejutan yang tidak diperkirakannya itu membuatnya pingsan.

Peristiwa malam itu adalah awal kesedihan Mira, perlahan-lahan semangat hidupnya menjadi kendur. Mira sadar peristiwa yang terjadi dalam kehidupannya itu bukanlah salah siapa-siapa, bukan salah Indra dan Tiara, mereka hanyalah dua orang yang dipertemukan oleh kesempatan dan akhirnya saling mencintai, mereka juga tidak pernah tahu ada perasaan cinta yang dipendam Mira kepada Indra, bukan salah Aryo juga yang telah mengetahui perasaan Mira kepada Indra namun tidak pernah menyampaikannya kepada Indra karena Mira memang tidak pernah menceritakan perasaannya itu kepada Aryo. Satu-satunya penyesalan Mira karena ia tidak sempat mengutarakan perasaannya kepada Indra sebelum akhirnya Indra memutuskan untuk menikahi Tiara. Cinta Mira bukan bertepuk sebelah tangan tapi layu sebelum berkembang karena dia sendiri yang tidak memberikan kesempatan cintanya untuk berkembang dan diketahui oleh Indra, rasa rikuh dan malu sebagi seorang perempuan bila harus mengungkapkan perasaan cintanya terlebih dulu kepada laki-laki yang dikaguminya telah membuat cintanya harus terkubur sebelum sempat dilahirkan, telah menghancurkan hatinya dan melumpuhkan sebagian hidupnya.

Mira berusaha bangkit dari keterpurukannya, ia merasa harus bisa mengalahkan perasaan sedihnya, hatinya yang hancur, sebagian hidupnya yang lumpuh, perlahan-lahan ia harus menyimpan dan mengubur dalam rasa cintanya kepada Indra dan memulai lembaran yang baru dengan membuka hatinya, namun sangat sulit bagi Mira untuk melupakan cinta pertamanya itu. Namun kehidupan terus berjalan. Akhirnya Mira memutuskan untuk mulai beraktivitas kembali, mencoba untuk hidup mandiri, mengaplikasikan ilmu yang telah dipelajarinya di bangku kuliah, ia mendirikan dan mengelola sebuah sekolah Taman Kanak-kanak dan penitipan anak. Sementara Indra bersama Tiara telah hidup berbahagia dan tidak pernah tahu apa yang terjadi dengan Mira.

Mira mulai asyik dan menikmati pekerjaan barunya sebagai pendidik anak-anak di TK yang dikelolanya bersama beberapa orang teman, perlahan-lahan ia mulai menghapus kenangan Indra dari hatinya meskipun ia belum dapat membuka hatinya untuk mencintai laki-laki lain, segenap hatinya dan perhatiannya ia curahkan untuk keluarganya dan anak-anak didiknya. Aryo, kakaknya lah yang sangat khawatir dengan sikap Mira yang menutup hati kepada laki-laki. Beberapa teman laki-lakinya yang dikenalkan kepada Mira dan berusaha mendekatinya tidak mendapat tanggapan berarti, sampai suatu hari seorang laki-laki bernama Satrio yang dengan sabar dan telaten mendekati Mira, sering mengajaknya berdiskusi tentang hal-hal yang kebetulan sesuai dan cocok dengan Mira. Kecocokan di antara mereka akhirnya mendorong keberanian Satrio untuk mengungkapkan keinginannya untuk mengajak Mira hidup bersama dalam satu rumah tangga. Mira sangat menghargai ajakan Satrio, namun ia belum bisa menjanjikan untuk mengikuti ajakan Satrio, ia masih butuh waktu untuk berfikir, bukan karena ragu akan keputusan Satrio, justru karena menurut Mira Satrio sangat dewasa dan mengerti akan perasaannya yang pernah kecewa terhadap Indra, Mira justru takut akan mengecewakan Satrio.

Kehidupan adalah sebuah misteri. Hanya Tuhan yang mengetahuinya. Ketenangan Mira terusik oleh berita mengejutkan dalam kehidupannya yang sekali lagi datang dari Indra. Indra menyampaikan berita duka tentang sahabatnya, Tiara, Tiara telah dipanggil Tuhan setelah melahirkan anak kedua mereka. Perasaan sedih meliputi hati Mira, sahabatnya sejak kecil telah meninggalkan dunia ini, walaupun Mira pernah sangat kecewa terhadap Tiara, namun ia tidak pernah menyalahkan Tiara dan selalu menyayanginya. Dan waktu-waktu setelah itu bagaikan sebuah film drama yang terjadi dalam kehidupan Mira. Setelah kepergian Tiara, Indra mendapat mutasi tugas dari kantornya ke kota tempat tinggal Mira. Indra yang menjadi orang tua tunggal dan tidak punya keluarga lain di kota itu sangat kerepotan merawat kedua putrinya yang masih balita dan menitipkan kedua putrinya di sekolah yang dikelola Mira saat ia bekerja. Kehadiran Indra dan kedua putrinya itu mengingatkan Mira pada kenangan yang dulu, namun ia berusaha untuk tidak mengingatnya, mira merasa sangat Iba pada kedua putri Indra, Gadis dan Dara yang baru berusia dua tahun dan bayi yang sudah ditinggalkan oleh ibu mereka, Mira juga prihatin pada kondisi Indra yang sangat terpukul atas kepergian Tiara. Mira dan keluarganya sangat sayang kepada Gadis dan Dara, mengasuh dan merawat mereka seperti keluarga sendiri, terkadang kalau Indra tugas keluar kota, maka keluarga Mira lah yang merawat mereka.

Rasa kasih dan sayang yang besar kepada Gadis dan Dara telah melupakan kesedihan Mira akan kenangan di masa lalu. Dan di luar dugaan Mira, setahun setelah kepergian Tiara, Kepada Mira dan keluarganya, Indra memohon agar Mira bersedia untuk menggantikan Tiara menjadi Ibu dari Gadis dan Dara, menurut Indra itulah wasiat terakhir Tiara kepadanya. Sebuah keputusan Indra yang sangat mengejutkan diri Mira, andai hal itu diungkapkan Indra empat tahun yang lalu, tentu dengan segera mira akan menyetujuinya. Sangat sulit bagi Mira untuk menjawab permintaan Indra, bukan karena Mira tidak mau kepada Indra yang sudah duda dan punya anak dua, bukan karena sakit hati dan kecewa yang pernah dirasakan Mira, bukan juga karena Indra memintanya atas wasiat Tiara semata dan tidak atas keinginannya sendiri. Mira masih sangat mencintai Indra di lubuk hatinya, juga menyayangi Tiara dan kedua anaknya, bahkan jika diminta merawat Gadis dan Dara tanpa harus menjadi ibu mereka pun Mira bersedia. Satu hal yang membuatnya bimbang adalah Satrio, bagaimana dengan laki-laki yang selama ini telah sangat baik kepadanya, sedikit demi sedikit telah menyembuhkan lukanya, bahkan selama ini ia turut menyayangi Gadis dan Dara, apakah Mira harus membalasnya dengan pengkhianatan dan kekecewaan.

Mira sangat beruntung mengenal Satrio. Satrio laki-laki yang sangat tulus menyayanginya dan ikhlas berkorban untuknya. Di tengah kagalauan hati Mira, datanglah Satrio yang memberikan semangat kepadanya untuk menerima pinangan Indra, Satrio sangat memahami perasaan Mira yang masih mencintai Indra dan ia juga paham Mira menghargai perasaannya sehingga ia merasa bimbang untuk memutuskan. Satrio ikhlas Mira memilih Indra, karena Satrio yakin bersama Indra Mira akan lebih bahagia, demikian pula Indra dan kedua anaknya akan bahagia bila Mira yang menjadi ibu mereka. Keikhlasan Satrio akhirnya menuntun Mira menerima pinangan Indra menjadi istrinya dan menjadi ibu bagi anak-anaknya.

“Ma, adek dah bobok? Suara lembut Gadis menyentakkan Mira dari lamunannya. Dengan spontan ditengoknya wajah Gadis yang sudah kelihatan mengantuk, sementara Dara sudah tertidur rupanya. Perlahan Mira memindahkan Rama yang sudah terlelap dari gendongannya ke box bayi di dekatnya. Sesaat kemudian ia beranjak menghampiri ranjang, mengangkat tubuh Dara yang tertidur di tepi ranjang dan menggesernya ke atas tempat tidur. Gadis segera merebahkan diri di sebelah Dara dan bersiap mendengarkan cerita Mira, gadis itu sudah sangat hafal dengan kebiasaannya setiap malam. Mira mengambil buku cerita dari tangan Gadis dan mulai membuka beberapa lembar halaman sebelum memulai ceritanya, “Pada suatu hari, di suatu desa yang terpencil hiduplah sebuah keluarga yang sangat bahagia…”, Mira menghentikan ceritanya ketika diliriknya Gadis sudah terlelap dalam tidurnya. Perlahan diselimutinya kedua gadis kecil itu, kemudian menengok bayinya yang telah terlelap di dalam box kecilnya. Sejenak Mira memandangi anak-anaknya sebelum keluar dari kamar itu menuju ruang di sebelahnya melalui pintu yang hanya dibatasi oleh gorden bermotif boneka kartun.

Diruang sebelah yang merupakan ruang kerja itu dilihatnya Indra masih sibuk di depan laptopnya, wajahnya sangat serius sepertinya masih sibuk dengan pekerjaannya, pikir Mira. Mendengar langkah Mira, Indra segera menghentikan pekerjaannya dan menengok ke arah Mira sambil tersenyum, “Jeng, kamu kelihatan capek sekali, istirahatlah duluan, aku mungkin harus lembur untuk menyelesaikan laporan ini”, kata Indra. Mira mengangguk pelan sambil tersenyum dan melanjutkan langkahnya menuju ruang yang ada di sebelah ruang kerja itu, ruang kerja Indra berada di tengah-tengah antara kamar anak-anak dan kamar Mira.

Mira merebahkan badannya yang sudah sangat penat karena beraktivitas seharian, namun ia belum dapat memejamkan matanya, pikirannya kembali menerawang melanjutkan kenangan tentang kehidupan yang telah dilaluinya. Akhirnya ia kini telah hidup bersama Indra berserta kedua putrinya dengan Tiara, dan Tuhan telah melengkapi kebahagiaannya dengan hadirnya Rama. Mira telah merasakan kebahagiaan dengan keluarga barunya, ia telah merasakan kasih sayang yang diberikan oleh Indra dan anak-anaknya, walaupun ia tahu bahwa Indra masih menyimpan cintanya pada Tiara, Mira sadar bahwa ia tidak bisa memaksakan Indra untuk mencintainya, cukuplah kasih sayang yang telah ia terima sebagai modal untuk mengarungi bahtera rumah tangga mereka. Biarlah cinta Indra disimpannya untuk Tiara, dan Mira akan menyimpan cintanya untuk Indra, seperti juga Satrio yang akan menyimpan cintanya kepada Mira seperti yang dikatakan Satrio saat ia melepas Mira untuk menerima pinangan Indra. Sebelum memejamkan mata, Mira memanjatkan doa, “Tuhan Maha Penyayang, Maha Adil dan Maha Mengetahui, Tuhan lah yang akan menumbuhkan cinta dan kasih sayang pada hati manusia, Insya Allah”.